Peta Kabupaten Muara Enim

Peta Kabupaten Muara Enim

Kabupaten Muara Enim

 SEBUAH cekungan hitam menyerupai kuali seluas sekitar 650 hektar, menyuguhkan pemandangan yang mengundang decak kagum bagi yang baru pertama kali melihat. Di sekelilingnya, seakan memagarinya dari dunia luar, terdapat pepohonan rimbun jajaran Bukit Barisan. Dari ketinggian puluhan meter, terlihat di dalam kuali raksasa itu sejumlah truk dan alat keruk berat terlihat bekerja bagaikan semut. Bergerak perlahan menggali dan membawa beban berat yang tak lain adalah batu bara. Kegiatan penambangan batu bara, khususnya Tambang Air Laya Tanjung Enim di Kecamatan Lawang Kidul yang telah berumur 20 tahun, menjadi aset dan sekaligus menjadikan Muara Enim identik sebagai kota penghasil batu bara terbesar. Tetapi, tidak itu saja. Seakan dimanjakan oleh alam, bumi Serasan Sekundang ini juga memiliki aset minyak dan gas bumi serta kekayaan hutan dan perkebunan.  Batu bara merupakan komoditas pertambangan yang memberi kontribusi cukup besar dalam memacu pertumbuhan ekonomi dan pendapatan daerah Muara Enim. Produksinya yang mencapai sekitar 10 juta ton per tahun sebagian besar dikonsumsi oleh kegiatan perlistrikan tenaga uap. Sementara cadangannya yang sekitar lima milyar ton masih cukup untuk puluhan tahun. 

Dari kegiatan produksi dan pemasaran batu bara ini, pemerintah kabupaten memperoleh pemasukan di atas lima milyar rupiah per tahun. Angka ini antara lain didapat dari iuran produk (royalti), iuran tetap, pajak bumi dan bangunan, pajak galian C, pajak air, dan pajak kendaraan. 

Selain batu bara mentah, pengolahannya menjadi briket batu bara juga dilakukan di sini. Briket batu bara adalah campuran batu bara dengan tanah liat dan kanji yang dicetak pada tekan tertentu dan dikeringkan dengan menggunakan mesin pengering. Penggunaan briket batu baru Tanjung Enim yang berkapasitas produksi 10 ribu ton per tahun ini sebagian besar untuk keperluan peternakan, yakni pemanasan anak ayam. Juga untuk industri kecil seperti pengeringan tembakau dan karet, pembakaran batu kapur dan batu bata, serta keperlua memasak rumah tangga atau rumah makan. 

Kontribusi kegiatan sektor pertambangan dan penggalian terhadap total kegiatan ekonomi kabupaten yang telah lebih dulu mengujicobakan konsep otonomi daerah ini, pada tahun 1999 mencapai 67,9 persen, senilai Rp 3,6 trilyun. Dari nilai tersebut, dua per tiga bagiannya merupakan sumbangan dari minyak dan gas bumi yang dikelola oleh Pertamina OEP Prabumulih. 

Begitu besarnya peranan migas dan batu bara bagi perekonomian Muara Enim terlihat dari perhitungan total kegiatan ekonominya tanpa mengikutsertakan batu bara dan migas yang hanya mencapai Rp 1,7 trilyun. Namun, dengan ditetapkannya kota administratif Prabumulih sebagai kota otonom pada Mei 2001, berarti aset ekonomi, kemampuan ekonomi maupun pendapatan kas daerah induk akan terpengaruh. Walaupun tidak secara mencolok. Karena, tahun 1999 misalnya, total kegiatan ekonomi Muara Enim tanpa migas masih sebesar Rp 2,9 trilyun. Pendapatan per kapita daerahnya tahun 1999 yang mencapai Rp 7,4 juta, di era otonomi diprediksi akan tetap tinggi. 

Di luar potensi batu bara dan migas sebagai sumber daya yang tidak bertahan lama, potensi ekonomi Muara Enim bisa bertumpu pada sektor pertanian dan pariwisata. 

Dari luas wilayah 957,5 ribu hektar, 96,9 persen di antaranya merupakan lahan kering dan sisanya lahan sawah. Bisa dikatakan menanam padi bukanlah pilihan utama penduduk, melainkan pada usaha perkebunan. Subsektor perkebunan memiliki peluang berkembang yang pesat bahkan mungkin bisa menggeser dominasi sektor pertambangan beberapa tahun mendatang. Apalagi kalau areal bekas penambangan batu bara direklamasi dan ditanami tanaman perkebunan. Total areal perkebunan Muara Enim yang meliputi perkebunan karet, kopi, kelapa, dan kelapa sawit sampai tahun 2000 adalah  234.266 hektar. Dari luas tersebut, sekitar 70 persennya merupakan perkebunan karet. 

Sejak tiga tahun lalu, selain komoditas utama perkebunan, tanaman perkebunan lainnya, seperti tanaman nilam mulai dikembangkan. Peluang me-ngembangkan tanaman nilam yang digunakan sebagai bahan obat-obatan dan wewangian di Muara Enim ini semakin terbuka lebar karena tanaman ini bernilai jual tinggi dan laku di pa-saran dunia. Sampai tahun 2000, luas areal perkebunan nilam sudah mencapai 177 hektar dengan produksi 10.500 ton. 

Sementara di bidang pariwisata, Muara Enim mempunyai potensi wisata alam dan sejarah. Seperti air terjun Curug Tenang di Desa Bedegung Kecamatan Tanjung Agung, sumber air panas Gemuhak di Desa Penin-daian Kecamatan Semendo, Curug Ambatan Pulau di Kecamatan Tanjung Agung, Danau Segayam di Kecamatan Gelum-bang, dan kompleks percandian Kebun Undang yang berlatar belakang agama Hindu di Kecamatan Tanah Abang. Aset ini bisa diharapkan meraup devisa bila dikelola, dipromosikan, dan diperkuat dengan infrastruktur yang baik. Apalagi Muara Enim mudah dijangkau karena termasuk dalam jalur lintas tengah Sumatera. 

Yang tak kurang menarik, bila memasuki Muara Enim dari Kota Palembang akan dijumpai pemandangan seperti perjalanan Jakarta-Puncak. Di sepanjang perjalanan terdapat pondok-pondok pedagang yang menjual buah-buahan menurut musim panennya, seperti sawo, jeruk, nenas, dan semangka. 

Sayangnya, sampai saat ini jumlah kunjungan wisatawan baik Nusantara maupun mancanegara ke daerah ini belum menunjukkan angka yang menggembirakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: